Perjalanan hidup ini tidak lahir dari ambisi untuk menjadi seseorang di mata dunia. Ia bertumbuh dari kesederhanaan, dibentuk oleh musim-musim yang panjang, dan makin diarahkan kepada satu pusat: Kristus sebagai Raja. Halaman ini bukan terutama tentang pencapaian, melainkan tentang bagaimana Allah menuntun hidup Onekhesi Zega dari masa kecil yang sederhana, masuk ke pengalaman Injil, lalu membawanya kepada pengabdian yang semakin jelas dalam Kerajaan Allah.

Dari hutan, bukan dari panggung dunia

Onekhesi Zega lahir dalam keluarga petani miskin yang bekerja keras mengelola hutan untuk hidup sehari-hari. Ia bahkan pernah menggambarkan masa awal hidupnya bukan sekadar "lahir di kampung," tetapi "di hutan." Kalimat itu bukan untuk dramatisasi, tetapi untuk menunjukkan betapa sederhana titik awal hidupnya.

Saat mulai masuk sekolah dasar, ia harus berjalan sekitar 5 km menuju sekolah di kampung. Dari latar yang demikian sederhana itulah tumbuh salah satu rasa syukur yang tidak pernah habis: bahwa seorang anak yang lahir dalam kesederhanaan dapat diantar oleh Allah menuju janji yang besar dalam Kerajaan Sorga.

"Perjalanan ini tidak dimulai dari pusat pengaruh, melainkan dari tempat yang kecil di mata manusia — namun tidak kecil di mata Allah."

Musim-musim pembentukan

1991
Mengalami Injil dan Roh Allah

Titik yang paling menentukan dalam seluruh perjalanan hidup. Firman Yesaya 49:6 menjadi sangat membekas — panggilan untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan dari Allah sampai ke ujung bumi.

1992–93
Mulai melayani, masuk pendidikan Alkitab

Mulai melayani sejak 1991, lalu memasuki pendidikan Alkitab dan Seminari Teologi. Pada awal 1993, ketika meninggalkan Nias menuju Manado, ia menerima firman Yohanes 12:26 dari seorang penatua gereja.

1997
Lulus S1 — Asisten Pastor

Menyelesaikan studi S1 Teologi dan mulai mengemban tanggung jawab sebagai Asisten Pastor — musim pertama kepercayaan pelayanan yang lebih nyata.

1998
Ditahbiskan sebagai Gembala

Tanggung jawab pelayanan semakin nyata. Musim ketika pengabdian mulai menuntut kedewasaan dan ketekunan yang lebih dalam.

1999
Ditahbiskan sebagai Pendeta — Diutus sebagai Misionaris

Pengutusan sebagai misionaris membuka babak baru dalam perjalanan pengabdian. Musim ini harus dibaca sebagai musim diperlengkapi untuk melayani, bukan musim membangun posisi.

2005
Merintis Urban Community Church

Membangun komunitas berbasis pemuridan — ruang di mana pembentukan dalam Injil menjadi pola hidup, bukan hanya program keagamaan.

2008
Menyelesaikan S2 Teologi

Perjalanan akademis yang memperdalam fondasi teologis, selalu dikaitkan kembali dengan kebenaran Injil yang hidup dan pimpinan Roh Allah.

2010
Ketua Wilayah — Pemimpin Pusat Denominasi

Dipercaya memikul tanggung jawab kepemimpinan yang lebih luas. Musim ini juga membawa pergumulan yang lebih dalam: apakah semua yang dikerjakan sungguh mencerminkan Kristus?

2011
Koordinator Strategi Nasional Misi — MBB

Terlibat dalam mobilisasi gereja-gereja dan para hamba Tuhan untuk strategi misi lintas denominasi di Indonesia.

2016
Perlengkapan dan pengabdian melalui DAPAT & BBM

Lahirnya langkah yang lebih terarah: memperlengkapi orang-orang pilihan. Injil yang dialami tidak dibiarkan tinggal sebagai pengalaman pribadi semata.

2020
Meluncurkan Proyek BANK Injil

Di tengah masa Covid-19, lahirlah ruang gerakan dan sistem yang lebih teratur untuk Berita, Ajaran, Nasihat, dan Kepemimpinan dalam terang Injil Kerajaan Allah.

2023
Meluncurkan KPBI

Kursus Proyek BANK Injil — ruang pembelajaran yang lebih terstruktur untuk orang-orang yang rindu masuk ke dalam pola Kerajaan Allah di bumi.

2025
Meluncurkan DFPM

Sistem Dukungan Pelayan Injil — langkah lanjutan dalam ekosistem pengabdian yang terus bertumbuh untuk memperlengkapi para abdi Kerajaan.

Nada yang harus terasa dari perjalanan ini

Syukur

Bahwa Allah dapat mengangkat hidup yang sangat sederhana ke dalam janji Kerajaan-Nya.

Kerendahan Hati

Bahwa perjalanan panjang pelayanan tidak boleh membuat seseorang berhenti mengabdi sebagai hamba.

Kejelasan Arah

Bahwa pusat hidup tetap harus kembali kepada Kristus, Injil, dan Kerajaan Allah.

Membaca perjalanan Onekhesi Zega seharusnya tidak membuat orang berhenti pada kekaguman kepada seseorang. Justru pembaca harus dibawa untuk melihat bahwa Kristuslah pusatnya. Semua musim hidup — masa kecil, panggilan, pembelajaran, pelayanan, kepemimpinan, pergumulan, pemurnian, hingga lahirnya karya-karya — harus dibaca sebagai bagian dari satu perjalanan di bawah tangan Allah.

Tidak masalah seberapa lama Anda telah menjadi Kristen dan seberapa lama Anda melayani, tetapi apakah Anda tetap rendah hati dan mengabdi bagi Sang Raja dan Kerajaan-Nya?
— Onekhesi Zega
WhatsApp