Ada perjalanan hidup yang terlihat biasa menurut mata manusia, tetapi sesungguhnya menyimpan pekerjaan Allah yang sangat besar. Demikianlah kesaksian hidup Onekhesi Zega. Ia tidak memandang perjalanannya sebagai rangkaian hal spektakuler menurut dunia. Namun ia menyadari bahwa ketika mengalami Injil dan Roh Allah pada tahun 1991, hidupnya telah disentuh oleh mujizat yang sesungguhnya — mujizat yang mengubah arah hidup, pusat pandang, dan tujuan pengabdian.

Kesaksian ini tidak diarahkan untuk membesarkan manusia. Halaman ini disusun agar pembaca melihat bahwa Kristus adalah Raja, Injil adalah jalan masuk ke dalam pemerintahan-Nya, dan Roh Allah memimpin manusia masuk ke dalam Kerajaan Allah.

Ketika Injil mulai menerangi hidup

Pada awal tahun 1991, ketika mendapat panggilan Injil, Onekhesi Zega membaca nubuatan dari Yesaya 49:6 tentang rencana keselamatan besar Allah bagi semua bangsa di dalam Kristus. Firman itu menjadi salah satu titik yang sangat membekas dalam perjalanan hidupnya.

Di dalamnya ada arah. Ada panggilan. Ada pandangan yang dibuka bahwa karya Allah di dalam Kristus tidak berhenti pada batas kelompok, agama, atau suku tertentu, melainkan bergerak menuju bangsa-bangsa.

Lalu pada awal 1993, ketika meninggalkan Nias dan pergi ke Manado, seorang penatua gereja memberikan firman dari Yohanes 12:26. Firman ini menegaskan: melayani Kristus tidak dapat dipisahkan dari mengikut Kristus. Tanpa mengikut, pelayanan akan mudah berubah menjadi kegiatan agama.

"Terlalu sedikit bagimu hanya untuk menjadi hamba-Ku... Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi."

Yesaya 49:6 — Panggilan Injil 1991

"Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa."

Yohanes 12:26 — Diberikan saat berangkat ke Manado, 1993

Pertama kali mengalami mujizat yang sesungguhnya

Ketika mengalami Injil dan Roh Allah pada tahun 1991, Onekhesi Zega menyaksikan bahwa ia sekaligus mengalami lima mujizat besar. Bukan terutama tentang sensasi lahiriah — ini adalah kesaksian tentang perubahan rohani yang mengubah seluruh arah hidup.

01
Tuli jadi mendengar

"Aku tuli karena tidak bisa mendengar suara-Nya, jadi mendengar."

Ini bukan terutama tentang telinga jasmani. Ini tentang hati yang sebelumnya tidak peka terhadap suara Allah. Manusia bisa sangat religius dan aktif, tetapi tetap tuli terhadap suara Sang Raja. Ketika Injil menerangi, hati mulai mendengar.

02
Buta jadi melihat

"Aku buta karena tidak bisa melihat Allah, jadi melihat."

Kebutaan terbesar bukan sekadar tidak tahu data, tetapi tidak melihat Kristus sebagai Raja dan tidak melihat Kerajaan Allah sebagai kenyataan yang harus dimasuki. Ketika Injil membuka mata, yang terlihat bukan hanya pengajaran, tetapi Allah sendiri yang bekerja di dalam Kristus.

03
Bisu jadi bicara

"Aku bisu karena tidak bisa berbicara Injil dari Roh-Nya, jadi bicara."

Ada banyak kata di dunia agama, tetapi tidak semua lahir dari Injil dan Roh Allah. Berbicara yang sejati bukan sekadar pandai berkata-kata, melainkan diberi mulut untuk menyatakan apa yang datang dari Kristus.

04
Lumpuh jadi berjalan

"Aku lumpuh karena tidak bisa berjalan untuk Injil Kerajaan Allah, jadi berjalan."

Perubahan arah hidup yang mendasar: dari berjalan untuk diri sendiri, sistem, atau kebiasaan agama, menjadi berjalan di bawah pimpinan Kristus sebagai Raja. Bukan sekadar aktif, tetapi diberi langkah yang benar.

05
Mati jadi hidup

"Aku mati karena tidak memiliki Roh kehidupan, sekarang jadi hidup."

Inilah puncaknya. Injil tidak hanya memperbaiki perilaku; Injil memberi hidup. Dari sini seluruh kesaksian ini harus dibaca: sebagai kesaksian tentang hidup yang dibangkitkan untuk masuk ke dalam pemerintahan Kristus.

Dari bayangan kepada wujud. Dari pengenalan yang tertutup kepada kehidupan yang dipimpin oleh Kristus sebagai Raja.

Ketika banyak orang menyebut Yesus, tetapi tidak melihat Kerajaan-Nya

Banyak orang menyebut nama Yesus, berbicara tentang Injil, dan memakai bahasa Roh Kudus, tetapi tetap tidak melihat Kerajaan Allah. Mereka bisa aktif di dalam agama, terbiasa dalam denominasi, bahkan fasih dalam istilah rohani, tetapi tetap buta terhadap pemerintahan Kristus sebagai Raja.

Kristus bukan hanya nama yang diucapkan.Kristus adalah Raja yang memerintah.
Injil bukan hanya berita supaya merasa selamat.Injil adalah jalan masuk ke dalam Kerajaan Allah.
Roh Allah bukan sekadar pengalaman keagamaan.Roh Allah memimpin manusia untuk hidup di bawah pemerintahan Kristus.

Ketika seluruh pergumulan ditarik kembali kepada Injil

Setelah bertobat, ia bergumul selama dua dekade untuk mencari teladan dan ajaran yang benar-benar mencerminkan Kristus. Pertanyaan yang terus menghantuinya: "Apakah ajaran ini sungguh dari Kristus? Apakah pengabdian saya berkenan kepada-Nya?" Apakah orang-orang sungguh dibawa kepada Kerajaan Allah, atau hanya ditata di dalam sistem agama dan denominasi?

Lalu jawaban ilahi yang ia terima hanya satu: INJIL. Dari sini jelas bahwa kesaksian Onekhesi Zega bukan sekadar kesaksian pertobatan awal, tetapi juga kesaksian pemurnian arah: dari banyak kemungkinan jalan, Allah menegaskan kembali satu pusat, yaitu Injil Kerajaan.

"Karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memelihara apa yang telah dipercayakan kepadaku hingga pada hari Tuhan."

2 Timotius 1:12 — Pengakuan iman yang menenangkan hati
Tidak masalah seberapa lama Anda telah menjadi Kristen dan seberapa lama Anda melayani, tetapi apakah Anda tetap rendah hati dan mengabdi bagi Sang Raja dan Kerajaan-Nya?
— Onekhesi Zega
WhatsApp